Skip to content

Flipped Classroom

Materi ini berfokus pada model Flipped Classroom yang dipopulerkan oleh Jonathan Bergmann dan Aaron Sams. Pendekatan ini secara radikal mengubah cara waktu kelas digunakan dengan memindahkan instruksi langsung ke luar kelas.


1. Konsep Utama Flipped Classroom (Bergmann & Sams)

Section titled “1. Konsep Utama Flipped Classroom (Bergmann & Sams)”

Filosofi dasar Bergmann & Sams adalah: “Siswa membutuhkan guru saat mereka mengalami kesulitan (mengerjakan tugas), bukan saat mereka hanya mendengarkan ceramah.”

A. Bloom’s Taxonomy Inversion (Pembalikan Taksonomi Bloom)

Section titled “A. Bloom’s Taxonomy Inversion (Pembalikan Taksonomi Bloom)”

Dalam model tradisional, tingkat berpikir rendah dilakukan di kelas, sementara tingkat tinggi dilakukan sendirian di rumah. Flipped classroom membalikkan urutan ini:

  • Model Tradisional:

    • Di Kelas (LOTS): Mengingat (Remembering) & Memahami (Understanding) melalui ceramah guru.

    • Di Rumah (HOTS): Menerapkan (Applying) & Menganalisis (Analyzing) melalui PR, seringkali tanpa bantuan guru.

  • Model Flipped:

    • Online/Mandiri (LOTS): Siswa menonton video atau membaca materi untuk mengingat dan memahami konsep dasar secara mandiri.

    • Tatap Muka (HOTS): Waktu kelas digunakan untuk menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta melalui diskusi, eksperimen, dan proyek.

Image of Bloom's Taxonomy in Flipped Classroom

Shutterstock

B. Distribusi Kognitif: Online vs. Offline

Section titled “B. Distribusi Kognitif: Online vs. Offline”

Pemisahan tugas kognitif memastikan efisiensi proses belajar:

  • Lower-Order Thinking (Online): Dilakukan secara asynchronous. Keuntungannya, mahasiswa bisa memutar ulang video (pause & rewind) sesuai kecepatan belajar masing-masing.

  • Higher-Order Thinking (Face-to-Face): Dilakukan secara synchronous. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan umpan balik instan saat mahasiswa mencoba menerapkan teori yang sudah dipelajari.

Flipped classroom menjawab masalah keterbatasan waktu di kelas. Dengan memindahkan porsi ceramah (misalnya 30-40 menit) ke luar kelas, waktu tersebut “direbut kembali” untuk:

  • Bimbingan individual bagi mahasiswa yang tertinggal.

  • Eksperimen laboratorium atau simulasi.

  • Kolaborasi antar mahasiswa dalam memecahkan studi kasus nyata.


2. Materi Pelengkap: Strategi & Kerangka Kerja EdTech

Section titled “2. Materi Pelengkap: Strategi & Kerangka Kerja EdTech”

Untuk melengkapi pemahaman mahasiswa, poin-poin berikut sangat krusial dalam Teknologi Pendidikan:

A. Empat Pilar Flipped Learning (FLIP Framework)

Section titled “A. Empat Pilar Flipped Learning (FLIP Framework)”

Agar Flipped Classroom berhasil, pengajar harus memperhatikan pilar-pilar berikut:

  1. Flexible Environment: Ruang kelas harus fleksibel untuk kerja kelompok atau studi mandiri, serta waktu belajar yang tidak kaku.

  2. Learning Culture: Pergeseran budaya dari berpusat pada guru (teacher-centered) menjadi berpusat pada mahasiswa (student-centered).

  3. Intentional Content: Pengajar harus jeli memilih materi mana yang cocok diberikan via video dan mana yang harus dibahas langsung.

  4. Professional Educator: Peran dosen bukan lagi “sumber pengetahuan utama”, melainkan pelatih yang aktif mengamati dan memberi penilaian formatif di kelas.

Strategi ini sering dipasangkan dengan Flipped Classroom. Setelah mahasiswa belajar mandiri, di kelas mereka diberikan pertanyaan konseptual. Jika banyak yang salah, mereka diminta untuk saling meyakinkan satu sama lain dalam kelompok kecil. Ini mendorong interaksi sosial dan pemahaman yang lebih dalam.

Mahasiswa teknologi pendidikan perlu menguasai alat untuk mengimplementasikan model ini:

  • Interactive Video: Menggunakan alat seperti Edpuzzle atau H5P untuk menyisipkan pertanyaan di tengah video pembelajaran agar mahasiswa tetap aktif (bukan pasif menonton).

  • Screencasting: Kemampuan memproduksi konten video berkualitas menggunakan software seperti OBS atau Camtasia.

  • LMS (Moodle/Google Classroom): Sebagai “rumah” bagi materi asynchronous dan tempat pelacakan progres mahasiswa sebelum masuk kelas.

Pengembangan lebih lanjut dari Bergmann & Sams di mana mahasiswa tidak diizinkan lanjut ke topik berikutnya sebelum mereka benar-benar menguasai (master) topik saat ini. Ini dimungkinkan karena materi tersedia secara online dan bisa diakses kapan saja secara personal.