Dasar Teoritis
Materi ini dirancang untuk memberikan landasan akademik yang kuat bagi mahasiswa dalam menyusun strategi blended learning. Fokus utama adalah bagaimana teori-teori ini tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjadi panduan praktis dalam mendesain instruksional.
1. Theoretical Foundation dalam Blended Learning
Section titled “1. Theoretical Foundation dalam Blended Learning”Teori-teori berikut menjelaskan mengapa dan bagaimana pembelajaran campuran bekerja secara efektif.
A. Konstruktivisme: Pembelajaran Aktif & Interaksi Sosial
Section titled “A. Konstruktivisme: Pembelajaran Aktif & Interaksi Sosial”Dalam konteks blended learning, konstruktivisme berfokus pada peran mahasiswa sebagai pembentuk pengetahuan, bukan sekadar penerima informasi.
-
Active Learning: Mahasiswa menggunakan platform online untuk eksplorasi mandiri (inkuiri) dan sesi tatap muka untuk pemecahan masalah (aplikasi).
-
Social Interaction: Menggunakan forum diskusi online dan kerja kelompok di kelas untuk membangun pemahaman kolektif. Pengetahuan dikonstruksi melalui dialog.
-
Zona Perkembangan Proksimal (ZPD): Menggunakan interaksi teman sejawat (peer-to-peer) dalam lingkungan hybrid untuk saling membantu mencapai pemahaman yang lebih tinggi.
Shutterstock
B. Kognitivisme: Scaffolding & Pemrosesan Informasi
Section titled “B. Kognitivisme: Scaffolding & Pemrosesan Informasi”Kognitivisme berfokus pada cara otak memproses informasi. Dalam blended learning, fokusnya adalah pada struktur materi.
-
Scaffolding Progression: Materi diatur secara bertahap. Contoh: Mahasiswa mempelajari konsep dasar secara mandiri di fase online (LMS), kemudian melakukan analisis mendalam atau proyek kompleks di fase offline dengan bimbingan langsung.
-
Cognitive Load Theory (Teori Beban Kognitif): Memastikan konten online tidak terlalu padat sehingga mahasiswa tidak mengalami overload sebelum masuk ke sesi tatap muka.
-
Aplikasi Bloom’s Taxonomy: Level LOTS (Lower Order Thinking Skills) seperti mengingat dan memahami dilakukan secara asynchronous, sementara HOTS (Higher Order Thinking Skills) dilakukan secara synchronous.
C. Konektivisme: Networking dalam Lingkungan Hybrid
Section titled “C. Konektivisme: Networking dalam Lingkungan Hybrid”Konektivisme adalah teori belajar untuk era digital yang menekankan bahwa belajar adalah proses menghubungkan simpul-simpul (nodes) informasi.
-
Networking Opportunities: Mahasiswa didorong untuk mencari sumber di luar materi yang diberikan (misalnya artikel jurnal, video pakar, atau komunitas profesional online).
-
Hybrid Environments sebagai Node: Kelas fisik dan LMS dianggap sebagai dua simpul yang saling terhubung. Mahasiswa belajar untuk memvalidasi informasi yang mereka temukan di internet melalui diskusi di kelas.
-
Personal Learning Network (PLN): Mahasiswa didorong untuk membangun jaringan profesional mereka sendiri menggunakan alat-alat digital selama proses perkuliahan.
2. Materi Tambahan yang Relevan (Teknologi Pendidikan)
Section titled “2. Materi Tambahan yang Relevan (Teknologi Pendidikan)”Untuk memperdalam target hasil pembelajaran mahasiswa, materi berikut sangat disarankan untuk ditambahkan:
A. Model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition)
Section titled “A. Model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition)”Materi ini penting agar mahasiswa tidak hanya memindahkan buku cetak ke format PDF, tetapi benar-benar melakukan transformasi pembelajaran.
-
Substitution: Teknologi hanya sebagai pengganti (ngetik di laptop vs nulis tangan).
-
Redefinition: Teknologi memungkinkan tugas yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan (misalnya kolaborasi global secara real-time).
B. Kerangka Kerja Community of Inquiry (CoI)
Section titled “B. Kerangka Kerja Community of Inquiry (CoI)”Ini adalah model paling standar dalam merancang pengalaman belajar blended dan online. Terdiri dari tiga elemen utama:
-
Teaching Presence: Desain instruksional dan fasilitasi yang dilakukan pengajar.
-
Social Presence: Kemampuan mahasiswa untuk menampilkan diri secara “nyata” di lingkungan digital.
-
Cognitive Presence: Sejauh mana mahasiswa mampu mengonstruksi makna melalui komunikasi berkelanjutan.
C. Project-Based Learning (PjBL) dalam Konteks Blended
Section titled “C. Project-Based Learning (PjBL) dalam Konteks Blended”Mengingat targetnya adalah “merancang kurikulum”, mahasiswa perlu memahami bagaimana mengelola proyek jangka panjang dalam format blended.
-
Fase Inisiasi (Offline): Brainstorming dan pembentukan tim.
-
Fase Eksekusi (Online): Kolaborasi di dokumen bersama (Google Docs/Notion) dan koordinasi via LMS.
-
Fase Presentasi (Hybrid): Demonstrasi hasil proyek baik secara fisik maupun virtual.