Skip to content

Desain Pesan Pembelajaran

Materi ini merupakan jembatan antara teori kognitif (yang telah kita bahas sebelumnya) dengan eksekusi visual yang nyata. Di sini, kita belajar bagaimana “pesan” diubah menjadi bentuk visual yang terstruktur.


Teori ini menjelaskan mengapa mengombinasikan kata-kata dengan gambar sangat ampuh untuk ingatan.

  • Dua Sistem Kognitif: Manusia memiliki dua saluran terpisah untuk mengolah informasi:
    • Sistem Verbal (Logogens): Memproses teks dan bahasa lisan.
    • Sistem Non-Verbal/Visual (Imagens): Memproses gambar, simbol, dan video.
  • Referential Processing: Ketika kita menyajikan gambar apel sekaligus kata “Apel”, otak membangun koneksi antara kedua sistem tersebut. Hal ini menciptakan jejak memori yang lebih kuat dibandingkan hanya menggunakan salah satu saluran saja.
  • Implikasi pada Microlearning: Jangan biarkan video hanya berisi orang berbicara (verbal saja). Selalu sertakan visual pendukung (grafis/teks kunci) untuk memicu dual coding.

2. Visual Hierarchy dalam Desain Instruksional

Section titled “2. Visual Hierarchy dalam Desain Instruksional”

Visual hierarchy adalah teknik mengatur elemen agar mata pembelajar tahu mana yang harus dilihat pertama kali, kedua, dan seterusnya.

  • Ukuran dan Skala: Informasi terpenting (seperti judul atau kata kunci) harus paling besar.
  • Warna dan Kontras: Gunakan warna cerah atau kontras tinggi untuk menarik perhatian pada tombol “Lanjutkan” atau bagian penting dalam diagram.
  • Typography: Gunakan maksimal 2-3 jenis font. Gunakan bolding atau italics secara strategis untuk menekankan poin utama.
  • Scanning Patterns:
    • F-Pattern: Pola mata saat membaca teks padat (dari kiri ke kanan, lalu turun sedikit dan ke kanan lagi). Cocok untuk artikel/modul teks.
    • Z-Pattern: Pola mata pada halaman yang minim teks (dari atas kiri ke kanan, diagonal ke bawah kiri, lalu ke kanan). Cocok untuk landing page atau slide presentasi minimalis.

3. Storyboarding: Arsitektur Microlearning

Section titled “3. Storyboarding: Arsitektur Microlearning”

Storyboarding adalah proses menuangkan ide secara sekuensial sebelum konten benar-benar dibuat.

  • Komponen Storyboard:

    • Visual: Sketsa atau deskripsi gambar/animasi yang muncul di layar.
    • Audio/Script: Narasi yang akan diucapkan atau musik latar.
    • Interactivity: Penjelasan apa yang terjadi jika pengguna mengklik layar.
    • Timing: Estimasi durasi setiap scene (untuk memastikan tetap dalam durasi microlearning).
  • Fungsi: Menghemat waktu produksi dan memastikan alur logika pembelajaran (scaffolding) terjaga dari awal hingga akhir.


4. Materi Tambahan: Melengkapi Pesan Instruksional

Section titled “4. Materi Tambahan: Melengkapi Pesan Instruksional”

Untuk membuat materi yang benar-benar profesional dalam teknologi pendidikan, mahasiswa perlu memahami konsep berikut:

Bagaimana otak manusia mengelompokkan elemen visual secara otomatis:

  • Proximity (Kedekatan): Elemen yang letaknya berdekatan dianggap satu kelompok.
  • Similarity (Kemiripan): Elemen dengan bentuk/warna sama dianggap memiliki fungsi yang sama (misal: semua tombol kuis berwarna biru).
  • Continuity: Mata akan mengikuti garis atau kurva untuk mencari kelanjutan informasi.

B. Accessibility & Inclusive Design (WCAG)

Section titled “B. Accessibility & Inclusive Design (WCAG)”

Pesan instruksional harus bisa diterima oleh semua orang, termasuk yang memiliki keterbatasan.

  • Color Blindness: Jangan hanya menggunakan warna (merah/hijau) untuk menunjukkan benar/salah; tambahkan ikon (centang/silang).
  • Readability: Pastikan rasio kontras antara teks dan latar belakang cukup tinggi.
  • Alt-Text: Menyiapkan deskripsi teks untuk gambar agar bisa dibaca oleh screen reader.

C. Rapid Prototyping dalam Instruksional Desain

Section titled “C. Rapid Prototyping dalam Instruksional Desain”

Alih-alih membuat storyboard yang sangat detail dari awal sampai akhir, gunakan pendekatan SAM (Successive Approximation Model):

  • Buat prototipe kasar satu modul.
  • Uji coba ke pengguna (mahasiswa lain).
  • Perbaiki berdasarkan masukan.
  • Ini sangat cocok untuk pengembangan teknologi pendidikan yang lincah (agile).

Desain pesan instruksional bukan tentang membuat modul yang “cantik”, tetapi tentang membuat modul yang “transparan”—di mana teknologi dan desain tidak menghalangi proses belajar, melainkan mempermudah otak untuk menyerap informasi.