Cognitive Load Theory (CLT)
Materi ini disusun dengan menggabungkan teori kognitif klasik, prinsip desain multimedia, hingga pemanfaatan teknologi modern.
1. Cognitive Load Theory (CLT) - John Sweller
Section titled “1. Cognitive Load Theory (CLT) - John Sweller”Ini adalah fondasi utama agar microlearning tidak membebani kapasitas otak pembelajar.
-
Tiga Jenis Beban Kognitif:
-
Intrinsic Load: Kesulitan inheren dari materi itu sendiri. Strategi: Pecah materi kompleks menjadi bagian kecil (segmenting).
-
Extraneous Load: Beban luar yang tidak perlu (misalnya desain yang berantakan atau instruksi yang membingungkan). Strategi: Buang elemen yang tidak relevan.
-
Germane Load: Beban “baik” yang membantu pembelajar membangun skema mental. Strategi: Fokus pada pola dan koneksi antar materi.
-
-
Working Memory Limitations: Otak manusia rata-rata hanya dapat memproses 7±2 informasi sekaligus. Microlearning bertujuan menjaga beban ini tetap rendah.
-
Chunking & Segmentation: Teknik membagi informasi besar menjadi unit-unit kecil yang bermakna agar lebih mudah disimpan dalam memori jangka panjang.
2. Multimedia Learning Principles - Richard Mayer
Section titled “2. Multimedia Learning Principles - Richard Mayer”Agar konten video dan interaktif menjadi “engaging” secara kognitif, bukan sekadar visual yang bagus.
-
Coherence Principle: Hapus kata, gambar, dan musik yang tidak perlu (hindari gangguan).
-
Signaling Principle: Berikan penanda (seperti panah, teks tebal, atau highlight) pada bagian penting.
-
Redundancy Principle: Gunakan grafis dan narasi, jangan tambahkan teks yang sama persis dengan narasi di layar secara berlebihan.
-
Spatial & Temporal Contiguity: Letakkan teks dekat dengan gambar yang relevan, dan tampilkan keduanya secara bersamaan (bukan bergantian).
3. Strategi Desain Microlearning
Section titled “3. Strategi Desain Microlearning”Bagaimana merancang modul yang singkat namun efektif.
-
The Single Learning Objective (SLO): Setiap modul hanya boleh memiliki satu tujuan pembelajaran yang spesifik.
-
Duration & Pacing: Durasi ideal adalah 3-7 menit. Kecepatan penyampaian harus memungkinkan refleksi singkat.
-
The “Hook-Content-Check” Framework:
-
Hook: Menarik perhatian di 10 detik pertama.
-
Content: Penyampaian inti materi.
-
Check: Kuis singkat atau refleksi untuk penguatan (retrieval practice).
-
4. Pengembangan Konten Video & Interaktif
Section titled “4. Pengembangan Konten Video & Interaktif”Materi untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif.
-
Interactive Video: Menggunakan branching scenarios (pembelajar memilih jalan ceritanya sendiri) atau in-video quizzes.
-
Gamification Elements: Penggunaan leaderboards, badges, dan progress bars untuk meningkatkan motivasi intrinsik.
-
H5P & Authoring Tools: Pengenalan alat seperti H5P, Articulate Storyline, atau Adobe Captivate untuk membuat objek pembelajaran yang bisa diklik.
5. Menyesuaikan dengan Learning Preferences (UDL Approach)
Section titled “5. Menyesuaikan dengan Learning Preferences (UDL Approach)”Penting untuk dicatat bahwa “Learning Styles” (Visual, Auditory, Kinesthetic) secara ilmiah sering diperdebatkan. Pendekatan yang lebih modern adalah Universal Design for Learning (UDL).
-
Multiple Means of Representation: Menyediakan materi dalam berbagai format (video dengan subtitle, transkrip teks, infografis).
-
Multiple Means of Engagement: Memberikan pilihan topik atau level kesulitan yang sesuai dengan minat mahasiswa.
-
Accessibility (A11y): Memastikan konten dapat diakses oleh semua orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan (misalnya penggunaan alt-text pada gambar).
6. Integrasi Teknologi Pendidikan (EdTech) & AI
Section titled “6. Integrasi Teknologi Pendidikan (EdTech) & AI”Materi tambahan untuk relevansi industri saat ini.
-
AI-Enhanced Microlearning: Menggunakan AI (seperti ChatGPT atau Gamma) untuk merangkum materi panjang menjadi draf microlearning.
-
Learning Management Systems (LMS) & Mobile Learning: Bagaimana mengoptimalkan tampilan konten agar responsif di perangkat mobile (karena microlearning sering diakses on-the-go).
-
Data Analytics: Menggunakan data interaksi mahasiswa untuk mengevaluasi bagian mana dari video yang sering diulang (menandakan materi tersebut sulit).
Catatan Penting: Dalam merancang microlearning, kuncinya bukan sekadar “memperpendek” durasi, melainkan “memadatkan” nilai edukasi tanpa menghilangkan konteks.