Skip to content

Social Learning Perspective

Perspektif pembelajaran sosial (Social Learning Perspectives) menggeser fokus dari belajar sebagai aktivitas individu menjadi aktivitas kolektif yang terjadi melalui interaksi. Dalam Teknologi Pendidikan, hal ini menjadi sangat krusial karena teknologi sering kali dianggap mengisolasi, padahal ia memiliki potensi besar untuk memperluas jaringan sosial.


Dikembangkan oleh Garrison, Anderson, dan Archer, kerangka kerja ini menjelaskan bagaimana pengalaman belajar yang efektif tercipta di lingkungan online atau blended learning melalui tiga elemen yang saling beririsan:

  • Social Presence (Kehadiran Sosial): Kemampuan peserta didik untuk memproyeksikan karakteristik pribadi mereka ke dalam komunitas, sehingga mereka dianggap sebagai “orang sungguhan”.
    • Elemen: Ekspresi emosi, komunikasi terbuka, dan kohesi kelompok.
  • Cognitive Presence (Kehadiran Kognitif): Sejauh mana peserta didik mampu mengonstruksi makna melalui komunikasi berkelanjutan. Ini biasanya mengikuti proses: Triggering event (masalah), eksplorasi, integrasi, dan resolusi.
  • Teaching Presence (Kehadiran Pengajar): Perancangan, fasilitasi, dan pengarahan kognitif serta proses sosial untuk mencapai hasil belajar. Ini bukan hanya tugas guru, tapi bisa dibantu oleh desain sistem EdTech itu sendiri.

2. Vygotsky’s Social Constructivism (Konteks Digital)

Section titled “2. Vygotsky’s Social Constructivism (Konteks Digital)”

Teori Lev Vygotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif manusia tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial dan budaya. Dalam dunia digital, teori ini bertransformasi menjadi:

  • Zone of Proximal Development (ZPD) Digital: Jarak antara apa yang bisa dilakukan siswa secara mandiri dengan apa yang bisa mereka lakukan dengan bantuan. Dalam EdTech, bantuan ini tidak hanya dari guru, tapi dari perangkat lunak adaptif atau pembelajaran sejawat (peer learning).
  • More Knowledgeable Other (MKO): Jika dulu MKO hanya guru atau orang tua, sekarang MKO bisa berupa AI (Chatbot), video tutorial YouTube, atau komunitas global di platform seperti Stack Overflow atau GitHub.
  • Scaffolding: Pemberian dukungan sementara yang kemudian dikurangi secara bertahap. Di platform digital, ini muncul dalam bentuk petunjuk (hints), template, atau feedback otomatis yang membantu siswa naik ke level berikutnya.

3. Tambahan Penting dalam Perspektif Sosial EdTech

Section titled “3. Tambahan Penting dalam Perspektif Sosial EdTech”

Agar riset Anda lebih komprehensif, berikut adalah beberapa teori/konsep yang sangat relevan dengan dinamika sosial di era digital:

A. Connectivism (George Siemens & Stephen Downes)

Section titled “A. Connectivism (George Siemens & Stephen Downes)”

Sering disebut sebagai “Teori Belajar untuk Era Digital”.

  • Inti Teori: Belajar bukan lagi hanya tentang menyerap informasi ke dalam diri, melainkan tentang membangun jaringan (network). Pengetahuan tersebar di seluruh jaringan (orang + teknologi), dan kemampuan untuk membedakan informasi yang penting dari yang tidak penting adalah keterampilan kunci.

B. Computer-Supported Collaborative Learning (CSCL)

Section titled “B. Computer-Supported Collaborative Learning (CSCL)”

Ini adalah bidang studi yang spesifik mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat memfasilitasi kerja sama.

  • Fokus: Bagaimana perangkat lunak (seperti Google Docs, Miro, atau Slack) dapat membantu siswa berkolaborasi untuk memecahkan masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan sendirian.

C. Social Presence Theory (Short, Williams, & Christie)

Section titled “C. Social Presence Theory (Short, Williams, & Christie)”

Berbeda dengan CoI, teori ini lebih fokus pada persepsi media.

  • Kaitan EdTech: Seberapa kuat suatu media (misal: Video Call vs Chat) mampu mentransmisikan isyarat sosial (ekspresi wajah, nada suara). Dalam desain EdTech, pemilihan media yang tepat sangat menentukan apakah siswa merasa “terkoneksi” atau justru merasa sendirian di depan layar.

KonsepFokus UtamaContoh Aplikasi EdTech
CoI FrameworkKualitas pengalaman belajar online.Forum diskusi yang difasilitasi dengan baik di LMS.
Social ConstructivismBelajar melalui interaksi sosial & alat.Fitur peer-review dan bantuan AI (Scaffolding).
ConnectivismBelajar sebagai pembentukan jaringan.Penggunaan Twitter/X atau LinkedIn untuk belajar dari ahli.
CSCLKolaborasi kelompok melalui teknologi.Proyek kelompok menggunakan papan tulis digital (Miro).