Skip to content

Model Desain Instruksional

Model Desain Instruksional (ID) adalah kerangka kerja sistematis yang digunakan untuk merancang, mengembangkan, dan menyampaikan materi pembelajaran secara efektif. Dalam dunia teknologi pendidikan, pemilihan model yang tepat menentukan keberhasilan transfer pengetahuan.


ADDIE adalah model desain instruksional yang paling populer dan menjadi fondasi bagi banyak model lainnya. Sifatnya generik dan sistematik.

  • Analysis (Analisis): Mengidentifikasi masalah instruksional, tujuan pembelajaran, karakteristik audiens, dan sumber daya yang tersedia.
  • Design (Desain): Menentukan strategi pembelajaran, struktur konten, metode penyampaian, dan instrumen asesmen.
  • Development (Pengembangan): Proses pembuatan aset digital, modul, video, atau perangkat lunak berdasarkan desain yang telah dibuat.
  • Implementation (Implementasi): Peluncuran program pembelajaran kepada target audiens dan pelatihan bagi instruktur/fasilitator.
  • Evaluation (Evaluasi): Mengukur efektivitas pembelajaran melalui evaluasi formatif (selama proses) dan sumatif (setelah selesai).

Model ASSURE dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell, dan Smaldino. Berbeda dengan Dick & Carey yang sangat teknis, ASSURE dirancang lebih operasional untuk digunakan oleh guru atau instruktur di dalam kelas guna memastikan teknologi dan media benar-benar terintegrasi dalam pembelajaran.

Berikut adalah tahapan dalam model ASSURE:

  • A - Analyze Learners (Analisis Pembelajar): Mengenali karakteristik umum (usia, tingkat pendidikan), kompetensi awal yang sudah dimiliki, serta gaya belajar siswa (visual, auditori, atau kinestetik).
  • S - State Objectives (Menetapkan Tujuan): Merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik, terukur, dan dapat diamati. Biasanya menggunakan formula ABCD (Audience, Behavior, Conditions, Degree).
  • S - Select Methods, Media, and Materials (Memilih Metode, Media, dan Materi): Memilih strategi pembelajaran yang sesuai, memilih media yang tersedia, atau memodifikasi materi yang sudah ada untuk mendukung tujuan.
  • U - Utilize Media and Materials (Memanfaatkan Media dan Materi): Menerapkan metode “5P”:
    1. Preview materi (pratinjau).
    2. Prepare materi (menyiapkan alat/bahan).
    3. Prepare lingkungan (ruang kelas/platform).
    4. Prepare pembelajar (memberikan pengantar).
    5. Provide pengalaman belajar (eksekusi).
  • R - Require Learner Participation (Melibatkan Partisipasi Pembelajar): Memastikan adanya interaksi aktif antara siswa dengan materi. Bisa berupa diskusi, latihan, atau kerja kelompok untuk memperkuat retensi informasi.
  • E - Evaluate and Revise (Evaluasi dan Revisi): Menilai apakah tujuan tercapai, apakah media yang digunakan efektif, dan melakukan perbaikan untuk sesi berikutnya.

SAM Model (Successive Approximation Model)

Section titled “SAM Model (Successive Approximation Model)”

SAM diperkenalkan oleh Michael Allen sebagai alternatif yang lebih “agile” dibandingkan ADDIE yang cenderung kaku. SAM sangat populer dalam pengembangan e-learning.

  • Iteratif: Alih-alih menunggu satu fase selesai sepenuhnya, SAM melakukan pengulangan (loop) kecil untuk menyempurnakan produk.
  • Savvy Start: Pertemuan awal yang intensif antara desainer instruksional dan stakeholder untuk membuat prototipe cepat.
  • Tiga Fase Utama:
    1. Preparation Phase: Pengumpulan data cepat.
    2. Iterative Design Phase: Mendesain, membuat prototipe, dan meninjau.
    3. Iterative Development Phase: Mengembangkan produk final melalui evaluasi berkelanjutan.

Model ini menggunakan pendekatan sistem yang sangat teknis dan prosedural. Sangat cocok untuk kurikulum formal yang membutuhkan ketelitian tinggi.

  • Berorientasi pada Tujuan: Menitikberatkan pada hubungan antara stimulus (materi) dan respon (hasil belajar siswa).
  • Langkah-langkah Utama:
    • Mengidentifikasi tujuan instruksional.
    • Melakukan analisis instruksional dan analisis pembelajar.
    • Menulis tujuan performansi.
    • Mengembangkan instrumen penilaian dan strategi instruksional.
    • Melakukan evaluasi formatif dan revisi instruksional

Tidak semua proyek membutuhkan model yang sama. Berikut adalah tabel perbandingan untuk membantu pemilihan:

KriteriaADDIESAMDick & CareyASSURE
KarakteristikLinier & TerstrukturIteratif & CepatProsedural & TeknisPraktis & Berbasis Kelas
Fokus UtamaDesain SistemPengembangan AgileAnalisis KomponenIntegrasi Media/Teknologi
WaktuSedang - LamaCepat (Agile)Sangat LamaPendek (Per Sesi)
KonteksUmum/KorporatE-learning/ProdukKurikulum FormalKelas/Instruksional

5. Tambahan Penting dalam Teknologi Pendidikan

Section titled “5. Tambahan Penting dalam Teknologi Pendidikan”

Berkaitan dengan relevansi di era digital, aspek-aspek berikut yang sering kali terlewat dalam model tradisional:

Dalam teknologi pendidikan, konten dan pedagogi saja tidak cukup. TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) menjelaskan bahwa seorang desainer harus memahami titik temu antara Teknologi, Pedagogi, dan Konten agar integrasi teknologi tidak sekadar menjadi “hiasan”.

Diusulkan oleh Wiggins & McTighe, model ini membalik alur kerja:

  1. Tentukan hasil akhir (apa yang harus dipahami siswa).

  2. Tentukan bukti evaluasi (bagaimana kita tahu mereka paham).

  3. Baru kemudian merencanakan kegiatan pembelajaran.

    Sangat efektif untuk memastikan teknologi yang digunakan benar-benar mendukung tujuan pembelajaran.

UX (User Experience) dalam Learning Design

Section titled “UX (User Experience) dalam Learning Design”

Di bidang EdTech, model desain instruksional kini sering digabungkan dengan Learning Experience Design (LXD). Fokusnya bukan hanya pada “apa yang dipelajari”, tapi “bagaimana perasaan dan kemudahan pembelajar” saat berinteraksi dengan platform (LMS, aplikasi, atau VR).

Catatan Penting: Di era AI saat ini, model desain instruksional mulai mengadopsi Rapid Prototyping dengan bantuan AI untuk mempercepat fase Development pada ADDIE atau fase Design pada SAM.