Skip to content

Konstruktivisme

Jika Behaviorisme fokus pada perilaku dan Kognitivisme pada proses mental, Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses di mana pembelajar secara aktif “membangun” pengetahuan mereka sendiri. Konstruksionisme membawa ide ini lebih jauh dengan menekankan pada pembuatan artefak nyata.


  • Jean Piaget (Individual Constructivism): Berfokus pada bagaimana individu membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan dan proses asimilasi serta akomodasi.
  • Lev Vygotsky (Social Constructivism): Menekankan bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi sosial dan bahasa sebelum diinternalisasi secara individu.
  • John Dewey (Experiential Learning): Pionir pendidikan progresif yang menekankan pentingnya pengalaman nyata dan pemecahan masalah dalam konteks sosial.
  • Seymour Papert (Constructionism): Murid Piaget yang mengembangkan teori Konstruksionisme. Ia percaya bahwa belajar paling efektif terjadi ketika orang terlibat dalam membuat benda nyata (seperti program komputer atau robot).

  • Active Learning: Pembelajar bukanlah “wadah kosong”, melainkan partisipan aktif yang mencari makna.
  • Zone of Proximal Development (ZPD): Konsep Vygotsky tentang jarak antara apa yang bisa dilakukan pembelajar secara mandiri dan apa yang bisa mereka lakukan dengan bantuan “More Knowledgeable Other” (MKO).
  • Social Construction of Knowledge: Belajar adalah aktivitas sosial. Diskusi, negosiasi makna, dan kolaborasi adalah kunci untuk memperdalam pemahaman.

Meskipun terdengar mirip, ada perbedaan fundamental dalam implementasi teknisnya:

FiturKonstruktivisme (Piaget/Vygotsky)Konstruksionisme (Papert)
Fokus UtamaBagaimana pengetahuan dibangun di dalam pikiran (Internal).Bagaimana pengetahuan dibangun melalui pembuatan karya nyata (External/Tangible).
Slogan”Learning as knowledge construction.""Learning by making.”
Peran MediaAlat untuk mengakses informasi atau berkomunikasi.Bahan baku untuk menciptakan sesuatu (misal: kode, desain).

  • Collaborative Learning Platforms: Alat seperti Google Workspace, Miro, atau forum diskusi di Moodle yang memungkinkan konstruksi pengetahuan secara sosial.
  • Problem-Based Learning (PBL) Environments: Sistem yang menyajikan skenario dunia nyata yang kompleks, memaksa siswa untuk melakukan riset dan membangun solusi secara mandiri.
  • Simulasi dan Virtual Labs: Seperti PhET Simulations, di mana siswa “bereksperimen” dan membangun pemahaman hukum fisika/kimia melalui trial-and-error.
  • Learning by Making: Platform seperti Scratch, Minecraft Education, atau lingkungan coding (seperti yang Anda gunakan dalam pengembangan web) yang memungkinkan siswa memvisualisasikan ide mereka.
  • Peer Review Systems: Fitur seperti Workshop Module di Moodle. Saat siswa menilai karya temannya, mereka sedang melakukan konstruksi pengetahuan melalui evaluasi kritis.

  • Kelebihan:
    • Menghasilkan pemahaman yang sangat mendalam dan tahan lama.
    • Meningkatkan keterampilan problem-solving dan berpikir kritis.
    • Mendorong motivasi intrinsik karena relevansi dengan dunia nyata.
  • Keterbatasan:
    • Time-intensive: Membutuhkan waktu jauh lebih lama dibanding metode ceramah.
    • Cognitive Overload: Jika tidak dibimbing dengan baik, siswa bisa bingung karena kurangnya struktur.
    • Evaluasi: Sulit untuk memberikan penilaian yang objektif dan standar pada proyek yang unik

David Jonassen mengusulkan bahwa teknologi seharusnya tidak digunakan sebagai “guru otomatis” (behaviorisme), melainkan sebagai Mindtools. Artinya, aplikasi yang Anda bangun harus membantu pengguna berpikir, menganalisis, dan memvisualisasikan masalah mereka sendiri.

B. Scaffolded Constructionism dalam Coding

Section titled “B. Scaffolded Constructionism dalam Coding”

Dalam konteks pengembangan web, boilerplate atau starter kit adalah bentuk Digital Scaffolding. Anda memberikan struktur dasar (ZPD) sehingga siswa bisa fokus membangun logika bisnis yang lebih kompleks tanpa terjebak pada konfigurasi dasar yang melelahkan.

Konstruksionisme menekankan bahwa karya harus “publik”. Dalam EdTech modern, ini berarti adanya fitur Showcase atau Portfolio. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk memamerkan proyek mereka di web bukan hanya soal kebanggaan, tapi merupakan bagian dari proses belajar itu sendiri.

Catatan: prinsip Konstruksionisme ini bisa diterapkan dengan membuat modul yang tidak hanya berisi video (pasif), tapi tugas yang mengharuskan pengguna menghasilkan “sesuatu” yang bisa dilihat orang lain.