Skip to content

Konektivisme

Konektivisme sering disebut sebagai “teori belajar untuk era digital.” Teori ini muncul sebagai respons terhadap keterbatasan Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme dalam menjelaskan bagaimana manusia belajar di lingkungan yang jenuh dengan teknologi dan informasi yang berubah sangat cepat.


  • George Siemens: Penulis artikel seminal “Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age” (2004). Ia berfokus pada dimensi organisasional dan sosietal dari pembelajaran.
  • Stephen Downes: Kontributor utama yang menekankan pada aspek teknis dan filosofis dari pengetahuan konektif (connective knowledge). Ia banyak mengeksplorasi bagaimana jaringan saraf (neural networks) dan jaringan sosial memiliki pola yang serupa.

  • Network Learning: Belajar adalah proses menghubungkan simpul-simpul (nodes) informasi. Simpul bisa berupa orang, organisasi, perpustakaan, situs web, atau basis data.
  • Distributed Knowledge: Pengetahuan tidak lagi hanya bersemayam di dalam otak individu, tetapi tersebar di seluruh jaringan. Belajar berarti mampu mengakses pengetahuan tersebut saat dibutuhkan.
  • Learning through Connections: Kemampuan untuk melihat hubungan antar bidang, ide, dan konsep adalah keterampilan inti. Memelihara koneksi sangat diperlukan untuk memfasilitasi pembelajaran berkelanjutan.
  • Currency (Kemutakhiran): Akurasi dan kemutakhiran pengetahuan adalah tujuan dari semua aktivitas belajar konektivistik.

Konektivisme mengubah peran teknologi dari sekadar media penyampai konten menjadi alat pembentuk jaringan:

  • Social Learning Networks: Penggunaan platform seperti Discord, Slack, atau GitHub di mana komunitas praktisi berbagi pengetahuan secara real-time dan organik.
  • Personal Learning Networks (PLN): Strategi di mana pembelajar mengkurasi sendiri ekosistem belajarnya (misalnya: mengikuti ahli di Twitter/X, berlangganan Newsletter, dan aktif di forum spesifik).
  • MOOC Design (cMOOC): Berbeda dengan xMOOC yang bersifat instruksional (seperti Coursera), cMOOC (Connectivist MOOC) berfokus pada agregasi, pencampuran (remixing), dan berbagi kembali hasil belajar oleh peserta di dalam jaringan terbuka.
  • Curated Learning Pathways: Alih-alih mengikuti kurikulum linear, pembelajar menggunakan alat kurasi untuk membangun jalur belajar mereka sendiri berdasarkan sumber daya yang tersebar di internet.

4. Relevansi di Era AI dan Information Abundance

Section titled “4. Relevansi di Era AI dan Information Abundance”

Di tengah ledakan informasi dan kehadiran AI, Konektivisme menjadi semakin relevan karena:

  • Know-Where vs. Know-What: Di era di mana fakta bisa dicari dalam hitungan detik, kemampuan untuk mengetahui di mana mencari informasi dan siapa yang bisa dipercaya jauh lebih penting daripada menghafal konten.
  • AI sebagai Simpul Jaringan: AI (seperti Large Language Models) dipandang sebagai simpul baru yang sangat kuat dalam jaringan belajar manusia. Pembelajar tidak belajar dari AI, melainkan belajar bersama AI sebagai mitra dialog.
  • Filtering & Pattern Recognition: Konektivisme menekankan kemampuan untuk menyaring “sinyal” dari “kebisingan” (noise), sebuah keterampilan kritis ketika informasi berlimpah namun kualitasnya bervariasi.

AspekKelebihanKeterbatasan
AdaptabilitasSangat selaras dengan cara kerja dunia modern dan industri teknologi.Kurang cocok untuk pembelajar pemula yang belum memiliki keterampilan manajemen informasi.
KecepatanMemungkinkan pemutakhiran pengetahuan secara instan melalui jaringan.Bisa menyebabkan “Information Overload” jika jaringan tidak dikelola dengan baik.
KemandirianMemberdayakan pembelajar untuk mengambil kendali penuh atas pendidikan mereka.Sulit untuk diukur dan dinilai menggunakan metode pengujian tradisional.

6. Tambahan Penting: Perspektif Teknologi Pendidikan

Section titled “6. Tambahan Penting: Perspektif Teknologi Pendidikan”

A. Pergeseran Peran Guru: Dari “Sage” menjadi “Concierge”

Section titled “A. Pergeseran Peran Guru: Dari “Sage” menjadi “Concierge””

Dalam kerangka Konektivisme, guru tidak lagi menjadi sumber tunggal pengetahuan (Sage on the Stage). Peran guru berubah menjadi Learning Concierge atau Network Facilitator yang membantu siswa membangun jaringan belajar mereka sendiri dan memvalidasi kualitas simpul-simpul informasi yang mereka temukan.

Section titled “B. Arsitektur “Node-Link” dalam Desain Web Pendidikan”

Dalam pengembangan aplikasi atau situs pendidikan, Konektivisme menginspirasi desain yang bersifat non-linear. Contohnya adalah penggunaan sistem tagging, hyperlinking yang masif, dan integrasi API yang memungkinkan data mengalir antar platform, mencerminkan bagaimana pengetahuan sebenarnya terhubung.

Konektivisme adalah pendorong utama gerakan pendidikan terbuka. Tanpa akses terbuka ke informasi, jaringan tidak dapat tumbuh. Penggunaan lisensi Creative Commons dan platform open-source adalah manifestasi praktis dari teori ini.