Kognitivisme
Berbeda dengan Behaviorisme yang hanya melihat perubahan perilaku luar, Kognitivisme berfokus pada apa yang terjadi di dalam “kotak hitam” pikiran manusia. Belajar dianggap sebagai proses mental aktif untuk memperoleh, menyimpan, dan memanggil kembali informasi.
1. Tokoh-Tokoh Utama Kognitivisme
Section titled “1. Tokoh-Tokoh Utama Kognitivisme”- Jean Piaget: Terkenal dengan teori perkembangan kognitif. Ia memperkenalkan konsep asimilasi (memasukkan info baru ke skema yang ada) dan akomodasi (mengubah skema untuk menyesuaikan info baru).
- Jerome Bruner: Menggagas Discovery Learning. Ia percaya bahwa pembelajar paling baik membangun pengetahuan ketika mereka menemukan sendiri konsep-konsep tersebut melalui kurikulum spiral (spiral curriculum).
- David Ausubel: Menekankan pentingnya Meaningful Learning (Belajar Bermakna). Ia memperkenalkan Advance Organizers—kerangka informasi yang diberikan di awal untuk membantu siswa mengaitkan informasi baru dengan apa yang sudah mereka ketahui.
2. Prinsip-Prinsip Dasar
Section titled “2. Prinsip-Prinsip Dasar”- Information Processing (Pemrosesan Informasi): Otak manusia diibaratkan seperti komputer yang menerima input, mengodekan (encoding), menyimpan, dan memanggil kembali data.
- Schema (Skema): Struktur mental atau “arsip” dalam pikiran yang mengorganisir kategori informasi dan hubungan di antaranya.
- Cognitive Load (Beban Kognitif): Kapasitas terbatas dari memori kerja manusia untuk memproses informasi dalam satu waktu.
3. Teori-Teori Penting dalam Kognitivisme
Section titled “3. Teori-Teori Penting dalam Kognitivisme”Cognitive Load Theory (John Sweller)
Section titled “Cognitive Load Theory (John Sweller)”Teori ini sangat krusial dalam desain instruksional. Ada tiga jenis beban:
- Intrinsic Load: Kesulitan inheren dari materi itu sendiri.
- Extraneous Load: Beban yang tidak perlu, biasanya disebabkan oleh desain instruksional yang buruk (misalnya, teks yang terlalu penuh atau navigasi yang membingungkan).
- Germane Load: Beban “baik” yang membantu pembelajar membangun skema (proses konstruksi pengetahuan).
Multimedia Learning Theory (Richard Mayer)
Section titled “Multimedia Learning Theory (Richard Mayer)”Mayer merumuskan prinsip bagaimana manusia belajar dari kata-kata dan gambar secara efektif, seperti:
- Dual Channel: Manusia memproses informasi visual dan auditori melalui saluran yang terpisah.
- Contiguity: Kata-kata dan gambar yang terkait harus diletakkan berdekatan secara spasial dan temporal.
Chunking dan Working Memory
Section titled “Chunking dan Working Memory”Berdasarkan hukum George Miller, kapasitas memori kerja manusia terbatas sekitar $7 \pm 2$ unit informasi. Chunking adalah teknik memecah informasi besar menjadi unit-unit kecil yang bermakna agar lebih mudah diingat.
4. Aplikasi dalam EdTech
Section titled “4. Aplikasi dalam EdTech”- Instructional Design (Minimal Overload): Desain antarmuka (UI/UX) LMS yang bersih dan intuitif ditujukan untuk mengurangi extraneous load agar siswa fokus pada materi.
- Scaffolding Digital: Fitur seperti petunjuk (hints), peta konsep interaktif, atau pop-up penjelasan yang muncul saat dibutuhkan untuk mendukung zona perkembangan siswa.
- Microlearning: Video pendek atau modul singkat (3-5 menit) yang menerapkan prinsip chunking agar tidak melampaui kapasitas memori kerja.
- Visual Aids & Multimedia: Penggunaan infografis, animasi, dan simulasi interaktif yang dirancang berdasarkan prinsip Mayer untuk memperkuat retensi informasi.
5. Kelebihan & Keterbatasan
Section titled “5. Kelebihan & Keterbatasan”| Aspek | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Kedalaman | Menitikberatkan pada pemahaman mendalam dan retensi jangka panjang. | Proses mental tidak bisa diamati secara langsung (sulit diukur secara objektif). |
| Transfer Knowledge | Memudahkan pembelajar menerapkan pengetahuan ke konteks baru. | Membutuhkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang cukup agar efektif. |
| Kemandirian | Mendorong siswa menjadi pembelajar mandiri yang mampu mengelola kognisinya. | Terlalu fokus pada struktur kognitif, terkadang mengabaikan faktor sosial dan emosional. |
6. Tambahan Penting: Perspektif Teknologi Pendidikan
Section titled “6. Tambahan Penting: Perspektif Teknologi Pendidikan”A. Metakognisi (Metacognition)
Section titled “A. Metakognisi (Metacognition)”Dalam EdTech, kognitivisme mendorong fitur Self-Regulated Learning. Dashboard yang menunjukkan progres belajar siswa (seperti learning analytics) membantu siswa melakukan “metakognisi”—berpikir tentang cara mereka berpikir dan mengatur strategi belajar mereka sendiri.
B. Desain Antarmuka Berbasis Kognitif (Cognitive UI)
Section titled “B. Desain Antarmuka Berbasis Kognitif (Cognitive UI)”Dalam pengembangan aplikasi, kognitivisme melahirkan konsep Mental Models. EdTech yang efektif adalah yang desainnya selaras dengan cara pengguna membayangkan sistem tersebut bekerja. Jika aplikasi pendidikan terlalu sulit dipelajari navigasinya, maka kapasitas otak siswa habis untuk mempelajari “cara menggunakan aplikasi” daripada “mempelajari konten”.
C. Expert-Novice Gap
Section titled “C. Expert-Novice Gap”Sistem EdTech yang baik harus menyadari perbedaan kognitif antara ahli dan pemula. Pemula membutuhkan banyak scaffolding (arahan), sedangkan ahli mungkin mengalami expertise reversal effect, di mana terlalu banyak arahan justru menghambat performa kognitif mereka.